RSS

Antara Tasbih dan Salib



Terlihat tiga orang yang sedang duduk bermalas-malasan di sofa, berderet memperhatikan suasana malam yang diselimuti cahaya rembulan. Kak Reza, orang paling dewasa, duduk santai di sebelah adik-adiknya dengan segelas susu di tanganya, Rezi dengan roti sobek di mulutnya, dan Reze dengan semangkok mie ayam yang bertengger manis di pahanya. Mereka sama-sama memandang keluar jendela yang memberikan pemandangan malam. Tak lama, sebuah awan menutupi sinar rembulan, satu-satunya sinar yang menerangi mereka bertiga.

+++

            “Ka Reza, bukankah dia mempesona?” Tanyaku mendadak, sembari memandangi sebuah foto di tanganku.
            “Kamu tetap akan memaksaku untuk percaya? Itu hanya foto yang bisa saja direkayasa, Reze.” Jawab seseorang yang duduk di sebelahku, tak lain adalah Kakakku, Kak Reza, dia menjawab dengan nada malas.
            “Ya, aku paham betul. Kau pasti tak ingin mengakui betapa ia begitu menawan, karena kau takut tersaingi olehnya.” Kataku meledek.
            “Hahaha, ya, aku setuju denganmu Ze, Kakak tak ingin mengakuinya karena dia lebih tampan dari Kakak.” Sahut Rezi, Kakakku yang lain, yang tengah duduk di sebelahku.
            “Kalian berdua ini bersekongkol. Besok akan kubawa kalian ke dokter mata!” Jawabnya dengan nada santai, tapi tak aku pungkiri terselip nada ketus di dalamnya.
            Rezi berdiri, berjalan mengambil ponselnya yang terletak di meja telephone. Lalu memutar lagu galau, yang semakin mengacaukan hatiku. Lirik demi lirik menghujam hatiku.
Tergambar jelas sorot matanya yang penuh intimidasi, di anganku. Sorot mata seseorang yang tengah aku pikirkan. Larangan untuk berpacaran selalu terngiang di benakku. Bunda yang tidak setuju jikalau aku berpacaran, Beliau selalu beranggapan bahwa di Agama Islam tidak pernah mengenal istilah berpacaran.
            “Kak, jikalau suatu saat nanti aku menikah dengan orang yang berbeda keyakinan, apakah itu sebuah dosa?” Tanyaku tiba-tiba menghentikan kegiatan minum susu Kakakku yang paling besar.
            Dosa Ze, di Al-Qur’an pun dijelaskan demikian. Agar kelak pasanganmu bisa menjadi imam yang baik bagimu. Kenapa kau bertanya demikian? Apakah seseorang yang kau sukai sekarang berbeda keyakinan dengan kita?” Jawab Kak Reza panjang lebar disertai tatapan tajam.
            “Mmm, ia Kak.” Jawabku jujur
            “Siapa? Berusahalah mencari laki-laki yang berkeyakinan sama denganmu. Itu pesan Kakak.” Katanya santai tapi dengan syarat tegas.
            Aku tak menjawab lagi. Diam, hanya itu yang bisa aku lakukan, merasa bersalah akan perasaanku. Haruskah aku hilangkan perasaan ini? Atau mungkin aku harus membohongi diriku sendiri karena perasaan ini? Berdosakah diriku ya Tuhan?
+++
Esok pun tiba, aku berangkat menuju halte bus. Lama menunggu, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di hadapanku. Natan teman sekolahku, yang mungkin bisa dikatakan berlebihan’ untuk seorang anak SMA, mengendarai sebuah mobil mewah dan melintasi halte tempatku berdiri. Semua mata pengunjung halte tertuju padanya, termasuk aku pun memandangnya. Kagum. Terpesona. Ya, ku akui pesonanya yang luar biasa telah kembali menghipnotisku. Pancaran matanya sungguh membuatku menunduk malu. Namun aku tersentak ketika nasehat Kakakku terngiang di pikiranku. Rasa gelisah itu muncul kemudian. Ya, Natan, dialah orang yang kusuka, anak laki-laki yang berbeda keyakinan denganku.
+++
Aku memang bukan seorang gadis yang feminim. Aku tidak terlalu memperhatikan fashion yang lagi booming, melakukan perawatan kuku di sebuah salon, dan lain sebagainya. Namun aku tak pernah suka, bila ada teman sekolahku yang mengatai diriku tomboy. Miris rasanya, bila ada yang mengatakan aku tak normal.
            Entah darimana, mereka yang nota bene adalah siswa yang tidak menyukaiku, tahu bahwa aku ini adalah seorang phobia sayur, yah mau bagaimana lagi, aku sangat benci dan takut dengan sayuran yang bernama Genjer. Mereka melemparku dengan sayuran itu. Takut, takut karena memang aku seorang phobia. Benci, benci karena aku tak bisa melakukan apa–apa. Setelah mereka puas, mereka meninggalkanku yang tengah menangis sendirian.
Aku menuju tempat dudukku, tempat duduk si phobia sayur yang terdapat di pojokkan kelas, aku yang terlalu sibuk menjauhkan benda laknat yang bernama Genjer dari tubuhku, tak menyadari seseorang yang tengah menuju ke arahku, dia datang memberi sehelai sapu tangan berwarna putih bersih.
            Hei, usaplah air matamu itu, mereka tak berniat membuatmu menangis, sungguh. Ada permintaan ma’af dari Muri dan yang lainnya.” Kata Natan meninggalkanku yang mematung karena terkejut.
            Hatiku berbunga, senang rasanya saat mendengar kata–katanya, saat ia memberikan sehelai sapu tangan untukku. Meja dan bangku tempatku duduk adalah saksi bisu atas kejadian ini. Seakan berada di negeri dongeng, dan aku berperan sebagai Putri kerajaan yang dijemput oleh sang Pangeran saat kesedihan melandaku.
Perasaan itu kian menjadi saat kejadian itu aku ceritakan kepada Kakak. Ia hanya memandangku sinis. Dan memberikan senyum meremehkan yang biasa ia tujukan kepada seorang looser. Tapi itu tak membuatku sedih, mungkin Kakak kurang suka aku dekat dengan Natan, orang yang berbeda keyakinan dengan kami.
+++
            Gelap, itulah yang aku lihat saat kubuka jendela kamarku, apakah fajar masih terlelap? Mungkinkah aku bangun terlalu pagi? Atau cuaca yang sedang tak bersahabat? Entahlah, aku tak tahu pasti, yang kutahu, aku sangat bersemangat pagi ini. Karena akan aku kembalikan sapu tangan milik Natan yang telah kucuci sampai bersih kemarin.
            Langkah demi langkah ku berjalan, pelan tapi pasti. Aku berangkat terlalu awal hari ini. Namun ada seorang siswa yang telah hadir di kelasku, duduk menyendiri. Diam dengan berbalut jaket putih dan memegang suatu benda. Salib, ya begitu kami menyebutnya. Benda berlambang plus yang bagian bawahnya lebih panjang itu, ia pegang erat sembari mengucap kata-kata yang akupun tak bisa mendengarnya. Setelah itu ia cium salib tersebut di genggamannya, lalu membiarkannya menggantung di leher jenjangnya.
Ya, itu Natan. Mungkin ia sedang ada masalah sehingga berangkat lebih awal, tapi entahlah, aku tidak mau menduga–duga hal tersebut. Aku langkahkan kakiku menuju tempatku duduk. Tak berapa lama, kuberanikan untuk menyapanya terlebih dulu.

            “Hai, tak seperti biasanya kau berangkat sepagi ini.” Kataku menyapa disertai senyum canggung di bibirku.
            “Tak bolehkah aku berangkat sepagi ini? Apakah kau keberatan dengan hal itu?” Jawabnya terlihat tersinggung.
            “Bukan begitu maksudku, ma’af jika kau tersinggung. Aku ingin mengembalikan sapu tanganmu. Terima kasih ya.” Kataku sembari memberikan sapu tangan berwarna putih milik Natan.
            “Aku tak tersinggung. Dan ya, sama-sama.” Jawabnya dingin sama sekali menghiraukanku.
            “Tan, aku boleh tanya? Kenapa kau selalu menggantungkan salib di lehermu? Jangan marah ya, aku hanya penasaran.” Tanyaku ragu-ragu akan pertanyaanku.
            “Oh ini. Ini salib pemberian Mamaku, Ze. Baguskan, penuh ukiran khas Yunani disetiap sisinya.” Jawabnya dengan mimik muka bahagia saat membicarakan seorang yang dia sebut dengan Mama, tapi tatapannya penuh akan syarat kesedihan, ingin kukatakan bagi saja kesedihanmu padaku, tapi aku tak mempunyai hak untuk itu.
            “Unik, pasti mahal. Mukamu mendadak sedih? Kenapa?” Tanyaku penasaran lagi, entah kenapa Natan selalu mebuatku penasaran.
            “Ini pemberian Mamaku satu tahun yang lalu. Saat aku ulang tahun Ze, tapi sepulang acara tersebut beliau tiba-tiba terkena serangan jatung. Dan beliau tak bisa ditolong.” Jawabnya sambil menundukan kepalanya, kulihat ia meremas tangannya dengan kuat, sesaat kulihat punggungnya terguncang menahan sedih.
            “Ma’af Tan, aku tak tahu akan hal itu. Ku harap kau tabah. Tuhan pasti telah memberi posisi terbaik untuk Mamamu.” Sahutku memberi semangat, ya hanya itu yang bisa kulakukan untuk saat ini, memberinya semangat dan semangat.
            “Terima kasih Ze, aku bersyukur mempunyai teman sepertimu.” Jawabnya pelan dengan menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya.
            Kata-katanya sangat mengena di hati. Diriku bak kumbang yang terbang gembira setelah mendapat banyak madu. Perasaan itu bertambah dan terus bertambah.
+++
            Semakin dalam kini perasaan itu, dalam sampai–sampai membuatku sulit mengabaikannya. Aku tak dapat memilikinya, perbedaan keyakinan itu menjadi masalah utama dan selalu menghantuiku.
Susah mengungkap semua rasa di hatiku. Sedih, cinta, sayang, bahkan benci, aku rasakan dalam hati ini. Tuhan ku mohon, hilangkan perasaan ini. Aku tak dapat menahannya lebih lama lagi.
+++
            Esok harinya aku berangkat lebih awal lagi. Berharap bisa bercerita dengan Natan. Terkejut, ya terkejut yang kudapatkan saat kakiku melangkah memasuki kelas, harapanku pupus ketika Natan duduk berdua dengan salah satu teman kelasku. Tombak tajam serasa menusuk jantungku. Kakiku lemas ketika sebuah adegan yang mereka lakukan dengan mudahnya di depan mataku. Ya, ciuman yang telah meruntuhkan perasaanku terhadapnya. Aku yakin mereka menyadari kehadiranku. Namun entah mengapa mereka tak memperdulikanku, menganggapku sebagai angin lalu. Pergi berlari adalah jalan terbaik saat itu. Berlari entah kemana, mendustai semua yang ku lihat hanyalah mimpi. Dan pahitnya itu tak dapat dipungkiri. Itu nyata dan membuatku patah hati.
+++
            Muka sinis aku pasang saat ku masuk kelas, tatapan tajam penghuni kelas ku balas dengan senyuman sindiran. Terutama kepada Natan. Entah kenapa aku tega berbuat ini, seharusnya aku bersikap biasa saja, lagi pula aku bukan siapa-siapanya Natan. Mungkin itu bentuk dari rasa kecewaku. Seorang pria yang kurasa telah berfikir dewasa ternyata melakukan hal serendah itu bersama temanku.

            “Ze, lagi dapet ya, kayanya lagi sensitif nih?” Tanya Natan sedikit mengajakku bergurau.
            Ya, kurang lebih seperti itu.” Jawabku dingin, dan segera berlalu dihadapannya.

Aku bisa melihat muka kecewa yang terpatri diwajahnya. Aku tak dapat berlama-lama berada dekat dengannya. Ingatanku pagi lalu masih terekam jelas di otaku. Dan itu sangat memuakkan.
+++
 Tertunduk merenung di dekat jendela kamar, diam tanpa kata menurutku itu adalah hal yang lebih baik. Namun hal ini membuat dadaku sesak. Dan akhirnya aku tak dapat menahan air mata agar tak turun. Semakin deras, tak dapat dibendung. Isak tangisku terdengar hingga luar kamar. Tiba-tiba Kakak masuk tanpa mengetuk pintu yang sontak mengagetkanku.
“Kamu kenapa lagi? Biar Kakak tebak, masalah laki-laki lagi? Kakakkan sudah mengingatkanmu, jangan pikirkan dia. Dia berbeda keyakinan dangan kita. Sudah jangan kau ingat dia lagi. Dia hanya membuatmu terpuruk. Mengerti?” Kata Kakak lembut, tangannya yang lembut mengacak rambutku.
“Iya, Reze mengerti Kak. Kita memang berbeda keyakinan dengannya. Sangat jauh berbeda. Namun salahkah aku mencintainya Kak? Ini manusiawi kan Kak? Aku mencintainnya sebagai perempuan normal yang menyukai laki-laki pada umumnya.” Jawabku membela diri, kembali air mata turun dari kedua bola mata yang bertengger diwajahku.
“Iya, kamu tak salah Ze, Kakak mengerti perasaanmu. Tapi Kakak tak ingin kau terus berharap banyak darinya. Kita ini umat muslim, sedangkan dia adalah seorang kristian. Kamu harus ingat, Bunda tak mungkin mengijinkan kau berpacaran pada umurmu saat ini, apalagi laki–laki itu adalah seorang kristian. Sudah, hapus air matamu. Sekarang tidurlah, tak berguna merenungi nasib terus menerus.” Katanya menenangkanku.
Sudah lebih dari satu jam aku berbaring. Namun tak sedikit pun aku merasa kantuk. Rasa sesak yang tadi ku rasakan pun telah berkurang. Jauh lebih nyaman dan tentram sekarang.
+++
            Berjalan dengan santai seakan tak terjadi apapun akan ku lakukan hari ini. Pemanasan tersenyum sudah, latihan tertawa sudah. Namun masih terihat ada keterpaksaan. Ya Allah, bagaimana ini? Aku telah berusaha merubah semuannya. Semoga Engkau meridoi niat baikku.
            Tepat pukul tujuh aku masuk kelas. Sengaja hal ini aku lakukan agar tak ada yang melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya seperti kemarin. Namun lirik mataku tak kuasa menahan pandangan ke Natan. Natan yang mungkin merasa ada yang memperhatikan pun akhirnya melihat kearahku dan memberi sedikit senyum manis. Aku pun dengan berat membalas senyumnya. Demikian seterusnya jika aku bertemu Natan. Hampir tak pernah ada percakapan yang berarti antara kami berdua.
+++
            Bulan Februari kini sudah menanti, bulan yang katanya penuh kasih sayang serasa biasa saja, menurutku, tak ada yang istimewa, sama saja. Tak ada cokelat, dan tak ada orang terkasih di dekatku.
Miris rasanya waktu aku membeli minyak disalah satu swalayan dekat rumah. Tersedia satu potong cokelat dan satu paket alat kontrasepsi, yang bertuliskanHappy Valentine”.
Apa yang ada di fikiranku benar-benar tak waras. Semua orang yang masuk swalayan melihat hal tersebut tanpa tak terjadi masalah. Aku pun merasa curiga ketika seorang laki–laki berseragam putih abu–abu membeli paket tersebut. Sungguh aku tak berniat suuzon, namun memang wajar kalau aku curiga, karena ia berseragam SMA lengkap.
Dan keterlaluannya ada seorang wanita yang menunggunya, duduk di atas motor. Berjilbab, namun seragam yang dia kenakan terlalu ketat, sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya. Akhirnya ada bagian-bagian tertentu yang harusnya tertutup malah terbuka. Na’udzubillahhimindzalik sama sekali tak patut contoh untuk ditiru.

            Seorang pelayan membuyarkan pandanganku. Ia bertanya kenapa aku hanya terdiam melihat sepasang kekasih membeli paket “Happy Valentine”. Aku hanya menjawab ringan, bahwa hal itu tak lazim dilakukan oleh siswa SMA.
Sang pelayan hanya tersenyum tersindir. Dia memperlihatkan bonus dari minyak yang kuberi. Sebuah tasbih indah. Aku memilih warna merah sesuai jilbab yang tengah kukenakan.

            “Terima kasih Mas.” Kataku kalem.
            “Sama-sama Mba, silahkan kunjungi kami lagi dilain waktu, promo berlaku hingga akhir Maret.” Kata sang pelayan menawarkan salah satu promo yang berlaku di tokonya.
+++
            Tasbih yang aku dapat dari hadiah minyak serasa mempengaruhi hidupku. Setiap aku berdo’a selalu ku genggam. Kemana pun aku pergi tasbih tersebut ku ikat di pergelangan tanganku. Indah, bersinar dan mempesona. Cahaya pantulan tasbih mengundang perhatian seluruh teman sekelas

            “Mewah sekali tasbihmu Ze? Beli dimana? Aku tertarik.” Kata teman sebangku- ku.
            “Ini hadiah minyak goreng, promosi Valentine Day.” Jawabku singkat.

            Mungkin gara-gara pesona tasbihku, teman-teman jadi membeli minyak goreng seperti diriku. Namun entah mengapa tasbihku itu berbeda, lebih cantik dan mempesona.
+++
Sepertinya fajar menyingsing lebih awal, aroma sedap masakan Bunda memenuhi ruangan. Aku yang kebetulan kedatangan tamu bulanan enggan untuk bangun dan tersenyum ke sang mentari. Tiba-tiba poselku berdering, nama Natan tertera di layar ponsel, tak heran dia mempunyai nomor handphone-ku, karena ia seorang ketua kelas.

“Halo, selamat pagi.” Natan menyapaku ketika ku mengangkat teleponnya.
“Selamat pagi, ada apa Tan? Pagi-pagi sudah menghubungiku?” Jawabku langsung tanpa basa-basi.
“Selasa malam ada acara tidak? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama. Papa sedang berada di luar kota, aku ingin merayakan valentine bersamamu. Apakah kau ada waktu Ze?” ajaknya dari saluran telepon. 
“ Ya nanti ku usahakan. Sudah dulu ya Tan. Selamat pagi.” Jawabku malas, enggan berlama-lama berbincang dengan Natan.

Ya Allah Reze, kenapa kamu kasih harapan kosong ke Natan. Kamu muslim Ze, muslim. Kamu tak seharusnya merayakan Valentine Day. Apakah kau sudah gila? Akankah kau mengukir dosa sekali lagi, setelah perasaanmu itu? Ingat, tak ada kata Valentine Day di dalam Al-Qur’an.

Selesai mandi aku langsung menuju kamar Kakak tertuaku. Menceritakan semuanya, dan sekaligus meminta saran.
Dan tak seperti biasa. Kali ini Kakak benar-benar memberi pilihan. Pilih tasbih atau salib. Dengan kata lain aku harus memilih agamaku atau agamanya. Dengan tegas aku katakan, aku memilih agamaku. Islam akan tetap bersemayan di hatiku. Dan aku pun telah siap untuk melupakannya. Cintaku akan aku lepaskan dengan ikhlas. Ini akan membuatku jauh lebih bahagia di hari esok.
+++
            Kuputuskan untuk menghubungi Natan setelah percakapanku dengan Kakakku.

            “Halo, assalamualaikum. Selamat pagi.”
            “Selamat pagi, ada apa Tan”
            “Ma’af Tan, nanti malam aku tak bisa menemanimu merayakan hari valentine. Kamu bisa mengajak yang lain. Ma’af ya sekali lagi.
            “Kenapa Tan? Apa kamu memiliki janji?”
            “Oh, tidak ada Tan. Tetapi aku ini seorang muslim Tan, di Agama-ku tak terdapat istilah Valentine Day. Bukan karena aku sudah mempunyai janji atau belum. Tetapi semua ini kulakukan untuk kebaikanku. Kamu kristian dan aku muslim. Aku berbeda denganmu.”
            “Apa yang salah dengan itu?”
            “Tak ada yang salah dengan itu Tan. Agamaku adalah agamaku. Agamamu adalah agamamu. Tetaplah berpegang pada kayakinan kita masing-masing. Aku tak ingin terus larut dan mengharap bisa ada di hatimu. Ma’af.”
            “Iya, aku mengerti. Kita memang berbeda keyakinan. Namun apakah kita masih bisa berteman?”
            “Tentu, kita masih bisa berteman. Sudah dulu ya. Wassalamualaikum, sampai berjumpa besok Tan.”
            “Iya.”

            Setelah berbincang dengan Natan, hatiku tenang. Damai serasa mengalir di tubuhku. Alhamdulilah Allah menerangi jalanku. Semua kegelisahanku hilang seketika.
+++
            Sebulan setelah Valentine Day, aku bertemu sosok yang sangat mirip dengannya, Natan.
Senyumnya, gerak-geriknya, bahkan sifatnya sangat mirip dengan Natan. Namun berbeda dengan Natan, dia seorang muslim. Putra namanya.
Aku mengenalnya seminggu setelah ia pindah rumah ke komplek perumahan yang kutinggali.
Allah memang maha adil, Ia mengirim Putra untuk menggantikan posisi Natan di hatiku. Lebih taat dan memeluk keyakinan yang sama denganku.

NN

Memories



“Ra...bangun Ra... Lu baik-baik aja kan? Ra... buka mata lu Ra..Please...”

                Cuma itu satu-satunya kalimat yang gue ingat setelah tragedi mengenaskan itu berlangsung, bahkan orang yang ngomong kalimat itupun gue lupa. Tapi entah mengapa kutipan kejadian silih berganti di memori otak gue tanpa satupun yang gue tahu asal-usulnya.
                Panas, ya... itu yang gue rasakan sekarang. Sepanas perasaan gue yang dongkol banget ngadepin orang yang notabene teman. Teman apaan, dia sama sekali gak mau ngingetin gue soal tragedi 24 September silam. Padahal dia tahu banget kalau gue sangat butuh informasi tentang kejadian itu. Kalian bingung kan? Gue juga bingung, huh!
                Oke, gue bakal sedikit kasih bocoran. Tanggal 24, tepatnya September lalu gue dikasih teguran sama Tuhan. Gue gak ingat seutuhnya, ya... gue gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang gue tahu tanggal 27 September gue udah ada di ranjang pasien dengan perlengkapan oksigen dan tetek bengeknya. Banyak orang yang lagi bacain gue surat yasin, gue yakin banget, mereka pasti ngira gue tinggal ngitung hari dijemput malaikat. Kalau misal lu diposisi gue, lu gimana? kaget gak? Gue kaget. Bukan hanya kaget karena banyak orang yang bacain gue yasin, tapi kaget liat kaki gue digantungin. Tunggu? Digantungin? Pokoknya itulah, yang buat nyagak kaki orang yang patah karena kecelakan, whatever lah namanya.
Waktu pertama mata gue kebuka, nyokap langsung tanya keadaan gue, nangis-nangis gak jelas.
                “Rara, Yaa Allah, akhirnya kamu bangun juga. Mama khawatir Ra, khawatir banget. Kamu tidur lama banget. Mama udah putus asa. Mama kira kamu bakal pergi....” Kata Mama sembari mengusap air matanya menggunakan tisu.

                “Dua hari Ma? Rara gak inget semua Ma. Rara kenapa Ma?  Kaki Rara Ma....” Jawabku terbata.

                “Kaki kamu gak kenapa-kenapa. Kamu banyakin istirahat ya Nak.” Tegur Mama.
--
                “Fi, gue bosen ya...selalu tanya ke lu apa yang terjadi ke gue tanggal 24 september. Gue capek Fi, capek ngemis-ngemis buat bikin lu buka mulut. Gue udah enek sama mereka yang ngejudge gue tanpa alasan yang jelas. Bilang gue bermuka dua, mandor tawuran, cewek ganas, cewek preman, sok baik, sok anggun dan pembunuh. Please, lu tahu sendiri kan? Waktu gue balik dari rumah sakit, semua teman jauhin gue, Raka juga ngilang, tinggal lu Fi. Dan lu sekarang sama kayak mereka! Menjauh dari gue, gue juga gak tahu ya.. lu kalau di belakang gue kayak apa. Cukup deh. Gue males ketemu lu!!” Kata gue sembari mendorongnya ke lorong kelas.

                “Ra.. .Ra... “ Bantah Ofi dan berlalu cepat.
                Seketika gue jalan dengan cepat meninggalkan sekolah. Air mata yang dari dulu gue simpan kini keluar seenaknya, gue gak peduli. Yang gue tahu sekarang semua orang berbeda, berubah dan gue muak! Gue ingin semua kisah gue berakhir. Gue ingin mati secepatnya.

                “Tuhannnn, apa yang sebenarnya terjadi sama Rara... Kenapa semua orang berubah. Salah Rara apa? Tolong kasih Rara pencerahan. Tolong...” Kataku memohon sembari membenturkan kepala ke sebuah pohon besar.

                Sakit, berkali-kali gue benturkan kepala dan satu persatu sebuah lukisan cerita tanggal 24 September terbuka, perlahan tapi pasti. Jelas dan sangat jelas.
--
                “Hallo Ka... lu dimana sekarang, gue depresi banget nih. Lu jemput gue di taman kompleks ya sekarang...” 

                “Taman kmpleks sekarang? Hah???..tut..tut..”

                Saat itu, nyokap sama bokap lagi gak akur. Saking gak akurnya gue jadi pelampiasan. Gue ditampar berkali-kali sama bokap. Padahal gue baru selesai belajar dan mau makan ke dapur. Kondisi Mama udah parah, beliau nyampe tertunduk dengan muka merah bekas tamparan. Dan gue lari.. lari menjauh dari neraka yang diciptakan bokap gue. Tempat yang ada di otak gue cuma taman, dan gue mutusin nelfon Raka, pacar gue.

                “Ra...” Ucapnya membuyarkan lamunanku.

                “Emmm, duduk sini...” Ajakku ke Raka sembari mengusap air mata.

                “Kamu kenapa Ra? Malam-malam begini kok minta ketemuan? Tadi sore kan udah ketemu...kangen ya?? Hahaha...” Ledeknya memecah kesunyian.

                “Apaan sih kamu, aku lagi kacau banget Ka, rumah lagi gak bersahabat. Bokap ngebully nyokap di depan gue.” Kataku nelangsa.

                “Tenang-tenang... Astaga Rara, muka kamu...” Ucapnya keget sembari memegang lembut mukaku.

                “Iya nih, sakit banget Ka, tadi kena imbas dari bokap. Cuma lima kali sih, tapi berhasil buat mukaku bengkak kayak gini.”

                “Kalau kayak gini udah KDRT Ra, bokap kamu bisa dituntut.”

                “Aku tahu Ka, kamu tolongin aku yaa, tolong telfonin Ofi dong. Bilang aku mau nginep di tempat dia. Suruh dia jemput ke sini Ka. Aku males balik ke rumah.” Kataku memohon ke Raka.

                “Iya sayang...”

                Beberapa menit kemudian Ofi udah datang dengan sedan silvernya. Mukanya panik, dan gue tahu. Dia bakal tanya dari a sampai z. Dan gue udah siap jawabnya.

                “Fi, jagain putri gue ya. Suruh makan juga ya... kompres mukanya tuh. Masa biru kayak gitu. Dan kamu Ra, langsung tidur, nurut ke Ofi. Bye. “ Kata Raka sembari menempelkan dua jari yang sudah ia cium ke keningku.

                “Iya Ka, gue bakal jaga Rara.” Jawab Ofi meyakinkan.

                Waktu cepat berlalu, gue nyeritain dari awal sampai akhir ke Ofi dan bonusnya gue dan dia sama-sama nangis. Berkali-kali bokap telfon tapi gue cuekin. Dan ada sms dari Raka...

Dari : Raka Ravanto
Slmt mlm my princess, gmn? Udh enkn. Km yg sabar ya yang. Ini Cuma cobaan, km pasti kuat. Bsk ak yg bakal antar km brngkt plg sklah. Oya, bsk kita anniv loh. 24th day.niatnya ak mau tlfn km tp sikon ga memungkinkn. Bsk ak bakal ajk km jln. ad tmpt bgs bngt yg km harus tau. Tp...km plg ijin nyokap bokap dulu ya...okey. Have nice dream my princess. Love you 
Diterima : 23:24:01   23-09-2012

                Bersyukur banget, Tuhan kasih tau gue ada manusia kayak Raka. Yang baik, dan perhatian. Gue langsung membalas smsnya.

Untuk : Raka Ravanto
Mlm juga yang, maciihhh bangts ye. Udah kok. Bsk lngsng prg aja. Aku pamit ke mama lwt sms aja. Baju aku bnyk d tmpt ofi yang. oke. See you.. mumumuahh :* lopyutoo
Dikirim : 23:48:10  23-09-2012
--
                Paginya sesuai perkataan Raka semalam, dia jemput gue. Dan terpaksa gue harus melambai tangan ke Ofi yang bakal berangkat sendirian ke sekolah. Gue juga sudah sms nyokap kalau gue nginep di tempat Ofi dua hari dengan alasan mau ngerjain tugas. Pokoknya semua berjalan lancar.

                “Pagi yang, siap dengan petualanganya hari ini? “ Tanyanya lembut.

                “Siap dong, yuk cuss ke sekolah. Pulangnya baruu, kayaknya ntr bakal pulang awal deh Ka, jam 12 kayaknya kita udah bisa meluncur.” Jawabku semangat.

                “Oke, oke.. bismillah” 

                 Semua perjalanan hari ini berjalan dengan cepat, dan sesuai prediksi. Sekolah gue memulangkan gue dan ratusan anak didik lainnya lebih awal. Layaknya anak kecil yang dapat permen gratis, bahagianya luar biasa. Manusiawi kan? Ucapan anniversary day membanjiri acc twiiter, facebook, sms. Ada yang buatin editan foto terus diupload ke instragram. Pokoknya rame banget deh. Dan gue bersyukur banget gue masih bisa bareng Raka di tahun ke dua ini. Tiba-tiba ada sms dari orang yang barusan gue omongin.


Dari: Raka Ravianto
Happy anniv sayangggg, tau aja y, udh 2thn km brng aku. Km sabarsabarin ak. Macihh banyak ya J ak brntung bs ktm km. Mf kalo anniv bsk-bsk udh gbarng lgi. Tp aku tetep sayang kamu. LopyuuJ aku udh dgerbng. Ak tunggu ya. Ajak ofi jg gpp.
Diterima : 12:02:34  24-09-2012

Dan gue balas,

Untuk : Raka Ravianto
Macihh kembali.ah km kok ngomongnya gitu si bebL uhukk T.T iye ak ajak ofi, tp dia bw mobil sendiri men. Okey
Dikirim : 12:05:23  24-09-2012                         
--
          Jam setengah satu, gue, Ofi, sama Raka cus berangkat. Tapi anehnya waktu gue mau berangkat      kok rasanya berat banget gitu. Gue juga sebenarnya pengin ngebatalin rencana pergi ke Raka. Tapi gue gak tega. Jadi ya udah gue jalanin aja.

         “Tadi pelajaran apa Ra?” Suaranya menghilang terbawa angin.

         “Biologi, kimia, bahasa inggris Ka. Eh, ini kita mau kemana? “

         “Kemana ya? Ke hatimu boleh? Hahaha... Ofi ikut? Kok gak keliatan?”

         “Yee, masih jaman gitu ya, gembel. Ikut-ikut, ketutup truk kayaknya.” Jawabku asal sembari menengok ke belakang.

         Itulah Raka, dia selalu membuatku nyaman. Gue gak ngerti Raka itu manusia kayak apa. Yang pasti, dia itu selalu ada saat gue butuh.
Perjalanan yang menyenangkan. Ya, gue gak tahu ini di daerah mana, gue sendiri belum pernah kesini. Pemandangannya bagus banget, kanan kiri kebun teh, ada bau khas yang gue cium tapi entah apa. Gue dan Raka berhenti di salah satu tikungan tajam, gue turun dari motor ninja hijaunya. Aneh, dia hanya diam memandang ke atas dan gue rasa dia benar-benar meremas tangan gue hingga memerah. Sampai saat dia bicara seperti orang yang tidak sadar.

         “Ka, kamu kenapa si? Diem terus loh.” Kataku memecah keheningan.

         “Gak kenapa-kenapa beb, cuma lagi menikmati aja di sini bareng kamu. Udah dua tahun loh Ra kita bareng, dua tahun juga kamu bertahan sama aku, makasih ya Ra. Inget gak anniv anniv sebelumnya, beda ya sama sekarang. Sekarang kamu udah lebih dewasa, dan aku gak bakal khawatir kalau ninggalin kamu.”

         “Kamu itu ngomong apa si Ka?”

         “Eh itu mobilnya Ofi nyampe, Fiiiiiiiiiiiiiiiiiiii buruan ke sini, fotoin gue sama Rara ya...” Teriaknya sembari menunjuk mobil Ofi.

         “Iyaaaa bentar,gue parkir dulu om.” Balas teriaknya.

         Di situ gue, Raka, dan Ofi foto bareng. Dari gue sama Raka dulu, terus gue sama Ofi, lanjut Raka bareng Ofi, terakhir kita bertiga. Dan paling banyak foto gue sama Raka.
         Kita bertiga ketawa-ketawa, Raka ngegombalin gue dan gue sama Ofi ngegombalin balik. Pokoknya seneng banget. Dan sekitar jam 2 kita bertiga pulang. Dan niatnya mau mampir makan di rumah makan padang. Tapi di tengah perjalanan, ada puluhan siswa X tawuran dengan siswa Y. Itu ngeri banget. Tapi berhubung kita udah terlanjur lewat situ, Raka ngegas full motornya. Itu kayak orang mau bunuh diri. Dan tiba-tiba ada lima orang anak yang terlibat tawuran menghentikan laju motor. Gue turun dari motor dengan rasa yang gak bisa di deskripsikan. Raka mendekati mereka. Mereka bawa bambu, balok kayu, sampai ikat pinggang yang berlabel sekolah mereka. Gue rasa mereka mengira gue dan Raka anak yang ikut tawuran juga dan berusaha melarikan diri. Salah satu mereka mengayunkan bambu ke lengan Raka. Alhasil pertahanan Raka roboh. Gue ngelihat Raka dikeroyok lima anak tawuran, gue histeris. Gue rebut balok kayu dari salah satu anak tersebut dan gue layangkan ke mereka. Gue tahu itu fatal. Tapi paling tidak gue bisa nyelamatin Raka yang keadannya udah berlumuran darah. Mereka geram dan menarik ujung kerah gue. Tamparan demi tamparan gue terima. Dalam keadaan mata yang telah membayang, tatapan gue berpindah ke sebelah timur. Seorang laki-laki yang mukanya telah babak belur mencekram arit dan lari menuju arahku. Saat itu juga aku merasa waktuku telah habis, tapi tak disangka Raka yang dalam kondisi seperti itu menghalangi arit yang telah haus nyawa itu menembus badanku.
         Gue sendiri yang melihat arit itu menembus perut Raka, tetesan darah sedikit demi sedikit keluar. Pada saat itu juga Raka masih bisa menggombal dengan senyuman “Kamu masih kelihatan cantik dengan kondisi seperti itu, semua akan baik-baik saja, love you sayang.” Ucapnya terbata dengan seutas senyum, bisa dihitung dengan detik setelah itu Raka telah menutup mata. Gue nangis sejadi-jadinya. Salah satu anak tawuran itu melayangkan kibasan bambu di kepala gue. Gue mati rasa, semua gelap gue gak bisa liat apa-apa. Cuma sirine mobil polisi dan suara Ofi yang terakhir gue dengar.
--
         Gue terbangun dari mimpi panjang, gue sekarang tahu semuanya. Gue tahu alasan semua orang jauhin gue, gue tahu kenapa Raka menghilang, gue tahu kena Ofi selalu diam saat gue tanya tragedi itu. Gue tahu...

         “Hallo, Fi...”

         “Hallo, Ra lu di mana menn, gue nyariin elu woy. Maaf Ra gue gak mau ceritain kejadian itu. Gue takut lu sedih Ra.”

         “Gue...gue udah tahu semuanya bro. Gue inget semuanya... gue yang harusnya minta maaf. Gue yang salah, gue maunya elu yang ngertiin gue, gue di area bermain deket GOR. Sekarang Raka di mana Fi... gue kangen dia Fi..” Ucapku sembari meneteskan air mata.

         “Raka udah pergi jauh Ra...”

         “Maksud elu apaan woy...”

         “Raka meninggal di tempat Ra, darah yang dikeluarin terlalu banyak waktu itu. Lambungnya sobek. Dia gak tertolong Ra. Maafin gue Ra, gue yang salah. Gue dateng telat. Gue mampir beli bensin dulu. Maaf Ra...”

         “Meninggal... meninggal Fi...” Jawabku terbata.

         “Iya Ra.. Ra...Ra..haloo...halooo..tut..tut..”

         Dua puluh menit kemudian Ofi datang menjemput gue. Gue dipeluk, dia kasih motivasi ke gue. Dia nyuruh gue ikhlas, dia nyuruh gue tabah dan rajin berdoa buat Raka. Gue gak tahu ini mimpi atau bukan. Gue ngerasa ribuan jarum lagi menusuk jantung gue, nyeri sekali. Nafas gue tersenggal-senggal. Dan semua berubah jadi gelap.
--
         “Ra, maafin Papa Ra.” Terdengar suara Papa membisik di telingaku.
Waktu gue buka mata, gue udah ada di rumah. Di ranjang berbalut sprei barbie Aurora.

         “Iya, maafin Rara juga Pa.”

         “Iya nak, Papa udah putusin buat rujuk kembali sama mama.” Ucapnya dengan senyum sembari merangkul Mama dengan mesra.

         Gue lihat Ofi tersenyum di balik pintu setelah meletakkan foto Anniversary September silam di meja belajar. Gue lihat  lembar demi lembaran foto dengan penuh perhatian. Di situ senyum Raka mengembang. Manis sekali. Gue cium fotonya dan gue berkata “Semua akan indah pada waktunya Ka, yang tenang di sana. Aku selalu mendoakanmu. Love you...”

NN

Panggilan Dari Atas Lonteng



               Langit sangat tidak bersahabat pagi ini. Tinta hitam seakan telah terlukis di celah-celah awan biru yang membentang. Mengerikan, namun tinta hitam itu belum ada apa-apanya dengan rumah yang kini aku tempati. Rumah baruku ini, sangat hening, seakan tak ada suara yang bisa terdengar, gelap, suram, pokoknya rumah ini ibarat tempat pembantaian orang-orang tak berdosa, hawanya itu dingin lembab gimana gitu.
                Aku, sekeluarga baru saja pindah ke rumah baru di kawasan sekitar kebun teh di Bandung. Sebenarnya ini bukan rumah baru, lebih tepatnya rumah yang sudah di jual keluarga korban perampokan tahun lalu. Kamu tahu? Semua penghuni rumah tewas dengan keadaan mengenaskan. Kepalanya dipenggal, kemudian raganya disayat bagaikan bongkahan daging, katanya si..ada indikasi balas dendam. Namun anehnya, sampai sekarang sang pelaku perampokan belum diketahui dimana dan seperti apa keadannya. Saksi dan buktipun tak ada. Ibarat angin yang lewat begitu saja.
                Awalnya, saat mengetahui informasi asal-usul rumah itu, ibuku sempat tak setuju. Namun mau bagaimana lagi? Ayah dan ibuku dipindah kerjakaan di sini, di sekitar tempat seram ini. Maklum ibuku seorang bidan, dan ayahku seorang dokter.
Terlebih aku, aku yang memang punya kelebihan alamiah yaitu memiliki mata ketiga, sangat tidak setuju harus pindah ke rumah yang cerita asal-usulnya tak jelas seperti itu. Bukannya tak lucu, jikalau tiba-tiba saat sedang beraktivitas ada sosok yang dalam tanda kutipnya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang muncul dengan tanpa dosanya di depanku?
                Akhir-akhir ini, hal itu bagai rutinitas setiap hari. Suara orang menjerit, suara gesekan jendela, suara orang berjalan, sampai suara orang menangis di atas lonteng. Dan itu terjadi setiap jam 00.00 pas. Sampai akhirnya aku harus mengatakan ketakutanku kepada ayah dan ibuku.

                “Bu, Reza rasa ada yang gak beres dengan rumah ini, ibu pernah dengar gak suara anak kecil nangis di lonteng tiap malam? Suara orang berjalan menaiki tangga di sudut situ?” Tanyaku sembari menunjuk lorong yang menuju tangga di lonteng.

                “Ah enggak deh Za, kayaknya kamu terlalu banyak nonton film horor nih. Ibu enggak pernah dengar apapun. Ibu fine fine aja deh dengan rumah ini, dingin gimana gitu.” Bantah ibu.

                “Ih, reza serius bu, tiap malam Reza dengar suara itu dengan jelas kok. Sumpah deh.”

                “Kamu ngayal kali, itu Cuma halusinasi kamu aja Za, udah dibilangin juga gak usah nonton film setan udah tahu penakut juga.” Jawab ibu enteng sembari menulis sesuatu.

                “Kalau Reza masuk ke lonteng itu gimana bu? Sebenarnya itu pintu lonteng ada kuncinya gak sih? Horor bener deh kalau diliat.” Tanyaku sembarang.

Ibu langsung mendekatiku, dan melihatku dengan seksama.

                “Reza, kamu gak ibu izinin masuk ke lonteng itu. Jangan coba-coba ya kamu. Berbahaya! Dulu waktu ayah membeli rumah ini, keluarga korban kasih wejangan biar kita sekeluarga jangan ada yang sampai masuk ke sana.” Ucap ibu yang mendadak horor sembari menunjuk ke lonteng.

                Usai ibu memberi tahuku tentang larangan memasuki lonteng itu, aku bukannya takut malah lebih penasaran. Malam harinya aku melakukan sebuah perjalanan di bawah kendali mata batinku, astral projection. Ya aku melakukan astral projection, sebuah perjalanan dengan merenggang jiwa ke alam lain. Sudah lama aku tak melakukannya, karena ini berbahaya. Ragaku akan kosong selama jiwaku melakukan sebuah perjalanan, dan otomatis roh-roh yang ingin hidup kembali akan berlomba-lomba mendekati bahkan memasuki ragaku yang kosong itu. Walaupun aku tahu, resikonya sangat fatal yaitu aku bisa tersesat di alam lain dan tak dapat kembali ke alam nyata.
                Aku sudah siap. Kubaringakan badanku dengan lemas, ku tarik nafas perlahan kemudian aku keluarkan udara dari mulut sebanyak tiga kali. Dadaku serasa mau meledak, gelisah tak menentu. Namun itu semua sirna ketika aku dapat melihat diriku tertidur di atas ranjang biru tua.
                Suasananya berbeda, lebih dingin, lebih lembab, lebih menyeramkan, dan tercium seperti bau amis darah. Aku mulai menaiki tangga menuju lonteng itu. Lorong menuju ke sana sangatlah gelap, aku tidak bisa melihat apapun. Perlahan tapi pasti, saat tangga terakhir aku injak, seperti ada sinar berwarna merah terang terpancar dari pintu lonteng tersebut. Aku meraba gagang pintu lonteng itu. Panas, seperti di dalam sana terjadi kebakaran. Namun sial, ketika pintu telah terbuka. Satu demi satu kejadian masa lalu yang mengerikan itu terlihat di mataku, jelas dan sangat jelas.
                Aku hanya mematung melihat tragedi yang menurutku itu lebih mirip dengan aksi saling membunuh satu sama lain. Mereka keluarga, aku pernah melihat foto mereka yang pernah terpajang di ruang tamu, namun sekarang sudah diganti dengan fotoku bersama ayah dan ibu.
Awalnya mereka sibuk membiacarakan suatu hal, yang jujur aku sama sekali tak bisa mendengarnya, dilanjutkan dengan sang bapak mengambil sebuah kapak, kapak itu masih berkilau seakan ingin dilayangkan ke leher manusia. Sang ibu mengambil silet, dan kedua anaknya hanya terdiam tak mengerti apa yang akan kedua orang tuanya lakukan.
Sang ibu dengan santainya mulai menyayat-nyayat bagian tubuhnya, mulai dari tangan, kaki, badan hingga paras cantiknya, terlihat tetesan air keluar dari mata sipit sang ibu. Ia melanjutkan ke anak laki-laki, dengan kasarnya ia mencekram tangan sang anak, lalu menyayat sangat dalam hingga darah segar hinggap dengan indahnya ke barang-barang kuno atas lonteng. Sang anak menjerit, meronta, dia telah kehilangan banyak darah.
Di lain tempat sang bapak yang telah menghabisi anak perempuannya, dia memungkas habis kepala sang anak kemudian menarik raganya menaiki tangga. Suara gesekan langkah itu, suara itu yang biasa aku dengar. Persis, malah lebih menyeramkan ini.
Sang bapak mendekati sang ibu yang sedang memangku mayat anak laki-lakinya yang kekurangan darah. Dan Sepucuk surat tertulis dengan darah.
“SETIAP TANGGAL 14 APRIL, SIAPAPUN YANG MASUK KE LONTENG INI HARUS MERASAKAN KESEDIHAN YANG KELUARGA ALAMI. MATI DALAM SEBUAH TRAGEDI”
Tanpa pikir panjang, sang bapak langsung memenggal kepala istrinya yang telah terbujur lemas kerena kekurangan darah dan akhirnya memenggal kepalnya sendiri.
                Aku ketakutan, aku berlari kencang menuju kamarku, menuju ragaku berada. Dan ternyata di samping ragaku telah terdapat sosok sang bapak yang ada di atas lonteng. Dengan tarikan nafas pertama, kubantingkan jiwaku di atas ragaku itu. Dan aku selamat, aku terbangun ketika jam dinding menunjukan pukul 00.20 menit. Aku hanya tertidur sekitar 25 menit untuk menyaksikan sebuah tragedi mengenaskan yang entah apa sebabnya. Aku penasaran, besok tanggal 14, dan apa yang  akan terjadi??
                Esoknya, mendadak ibu menyuruh seorang tetangga yang notabene adalah kuli bangunan untuk mengosongkan isi loteng. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran ibu yang melarangku menaiki loteng itu, sedangkan orang lain diizinkan. Sekian lama si tukang membersihkan isi loteng itu, tak terjadi apapun. Ia masih sempat turun mengambil kapak yang katanya untuk membuka sebuah loker. Kemudian mengambil silet entah buat apa. Dan ia pun sempat mengambil kopi dan cemilan yang disajikan ibu di ruang tamu.
                Namun, lima jam setelah itu. Si tukang, tidak turun-turun, lima jam itu waktu yang sangat lama untuk membersihkan loteng. Ibu mulai cemas, dan menyusul ke atas. Dan apa yang terjadi? Kepala sang tukang sudah putus, dan tubuhnya penuh dengan sayatan yang tak wajar. Ibu langsung menelfon ayah, kemudian melapor ke polisi. Semua tragedi yang aku lihat semalam itu fix jadi kenyataan.
                Saat ayah datang, polisi langsung melakukan olah TKP. Saat itu aku menceritakan semua yang aku lihat saat aku melakukan astral projection. Ayahku pecaya, karena beliau juga dapat melakukan hal yang aku lakukan. Bahkan ini adalah kelebihan alamiah yang aku dapat dari ayah.
                Tanggal 14, ya tanggal 14. Setiap tanggal itu, penghuni asli rumah ini akan merenggang korban di lonteng itu. Di lonteng keramat dan kusut itu. Entah siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Yang pasti bukan aku, atau keluargaku. Ayah memutuskan pindah ke sebuah perumahan yang lebih dekat dengan kantornya bekerja. Dan aku, aku lebih lega telah meninggalkan rumah itu.

NN

Masih Ingat Gue?

 Pagi ini udah setahun gue jadi gembel. Udah setahun gue lari dari kenyataan kalau gue emang seorang pecundang kacung. Eitsss, bukan sembarang gembel, bukan sembarang pecundang. Gue masih stay cool dengan semua atribut yang gue pakai sekarang, bedanya gue hanya sedikit, emm.. liar.  Orang tua gue belum tau keadaan anaknya yang beruntung ini karena mereka masih di luar negeri lima tahun terakhir.

Inti permasalahannya adalah gue di tinggalin cowok alay, terus gue depresi, nangis kejer, stop makan, difusi otak, lalu gue mati suri. HAHAHA. Right, gimana pendapat kalian dengar ocehan gue barusan? Apakah geli? Oh God, gue geli-__-
Tapi itu dulu, sekarang gue udah jauh, jauh lebih normal di antara orang gila. Gue sekarang lebih trendy dengan tindik di hidung dan tato tengkorak di telapak tangan. Dan rambut cepak ala Miley Cyrus.
Gue bosan jadi anak baik terus, kurang lebih 17 tahun gue jadi anak nurut, pendiam, cerdas, terampil, dermawan, and blablabla. Dan lo yang sekarang masih kayak patut nyobain gaya gue.

Dan semua itu berakhir ketika dia datang.....

--------

Siang ini, niatanya gue mau jalan ke daerah pecinta grafiti, gue ke sana bukan tanpa tujuan. Tapi, biar bisa jail nyoret-nyoret tembok kalau udah bisa. Sayang, GAGAL. Because what? Mantan gue yang kayak ekor ayam tiba-tiba ke rumah gue. Dia liat gue, kayak udah terpisah selama puluhan tahun.

  "Elo?" Tanya gue sambil menujuk ke mukannya.

  "Kirana, lo kok jadi....." Ucap dia syok sembari menujuk ke muka gue.

  "Lo ngapain ke sini hah? Masih punya tampang?"

  "Gue, gue mau minta ma'af ke lo Na." Jawabnya murung.

 "Dih, basi!  Lo liat gue sekarang! Lo yang buat gue kayak gini aja nyaris lupa tampang gue."

 "Dan karna itu gue ke sini mau minta ma'af, gue nyesel Na."

Tanpa basa-basi gue langsung ninggalin dia di ruang tengah. Syukur aja kunci mobil ada di saku celana, kalau enggak, mati gaya banget gue-_-

Gue nyetir tanpa arah, tapi entah mengapa feeling gue membawa gue ke garis pantai utara. Jujur aja gue tiba-tiba mabok. sungguh memalukan. tampang cool gaya trendy tapi mabok. Oke next, akhirnya gue parkir mobil di sebrang jalan, dan ber-huek ria.

 "Hei, lo gak apa-apa?" Kata seseorang sambil mengintip dari bawah melihat muka gue.

Gue cuma angkat tangan, beri kode kalau gue baik-baik aja. tapi kayaknya si monyet hutan yang entah dari goa mana gak tahu kode gue, lebih tepatnya gak bisa nerjemahin. Ujungnya dia malah pencet-pencet leher gue.

 "Apaan sih? Kenal enggak, pegang-pegang! berani lo sama gue?" Kata gue nyolot sembari menirukan jurus silat yang sebenarnya gue ngarang.

"Eh, gue orang baik, santai Bro. Tadi pas gue lewat aja, eh ada preman mabok.Hahahahah," Ketawanya meledak.

"Diem gak lo!" Jawab gue membela diri dengan muka bersemu merah.

"Ah, yaudah bye ."
Dia pergi ninggalin gue, dan gue baru sadar kalau gue gak tahu daerah ini.

"Weeeeeehh, wehhhh lo yang pake baju merah. Tunggu bentar, gue mau nanya."
Gue lari nyusul dia.

---

Dua jam gue nunggu si baju merah, ya..si cowok aneh, Joko. Namanya juga aneh, tapi cakepnya gak usah ditanya. Dia ternyata bukan orang sini juga, dia lagi liburan di sini. Tapi si baju merah itu udah cukup hafal daerah sini. jadi niatnya pas gue ceritain tetek bengek kenapa gue bisa ada di sini, dia punya itikad baik buat nganter gue sampai keluar garis pantai. Alhasil gue gak bisa dong nolak itikad baik orang. Satu yang gue syukurin sekarang adalah gak semua orang pura-pura jadi berandalan buat nutupin hidupnya, ya kayak gue.

"Gue udah siap, gue bawa mobil sendiri aja. biar gak ribet. Yuk, numpang gue. Mobil lo kan tadi masih di pinggir jalan."

"Ya." Jawab gue masih cetus.

"Judes amat bu." Jawab dia santai.

"Makan dulu aja ya, kan sayang lo jauh-jauh nyasar ke sini gak dapet apa-apa." Lanjutnya sambil tersenyum.

"Oke, thanks ya udah mau bantu gue." Sahut gue sembari tersenyum.

------

Gue makan di restoran seafood kecil, tapi ajnirrrrr bro kepiting asam manis-nya enak banget buset. Gue aja nambah tiga piring, Joko-si-baju-merah liat gue sampai mangap. tapi tetep, gaya gue kan udah kece abis tuh. Jadi gue sok cuek aja. Itulah untungnya jadi berandalan.

"Ma'af kata aja ya Na, lo kan cewe tuh. Lo aslinya imut si, tapi gara-gara pakai tindik di situ, lo jadi amit-amit. Ma'af kata. Hahahaha. "

"Eits, lo jangan salah, nih gue bosen aja jadi anak baik. Dulu gue juga cantik, kalem kok." Jawab gue membela diri.

"Dusta, dusta. Hahaha."

"Lo gak percaya? Liat nih." Kata gue sembari memperlihatkan foto gue jaman masih kalem.

"Buset! Ini mah operasi plastik ya? Apa foto orang lo ngaku-ngaku."

"Demi apapun itu gue."

"Gue ngerubah penampilan ya gara-gara...."

"Gara-gara mantan lo yang bikin lo nyasar ke sini selingkuh? Lanjut Joko.

"Enggak selingkuh, cuma ninggalin gue buat cewek lain."

"Nah!!!!!! Itu lebih nestapa Na! Tapi sama aja. Sama-sama pergi."

"Gue juga ke sini sebenarnya..... gara-gara tunangan gue meninggal pas di hari pernikahan gue. Dan lo tau kenapa dia bisa meninggal? Dia nyelamatin gue dari tiang lampu yang jatuh. Tapi sayang, saat gue udah diselamatin dia. Gue gak bisa nyelamatin nyawanya. Lo pasti tau rasanya kayak apa."

"Ya Tuhan Jokooooo." Respon gue kaget.

" Jadi, lo mending ending-in deh gaya berandal lo yang konyol itu. Lo masih bisa liat mantan lo senyum kan? Lo masih bisa liat mantan lo bahagia walaupun lo sakit. Beda sama gue, selain sakit tunangan gue gak bisa hidup lagi kan."

"Gue....gue...." Gue membisu.

---

Detik itulah saat gue bertekad kembali ke Kirana yang masih kalem. Gue lepas tindik gue, gue benerin rambut gue, tapi gue gak ilangin tato tengkorak ini biar gue bisa inget saat gue masih jadi berandalan.

Pada saat itu juga, gue dan si aneh baju merah semakin dekat. dan gue harap akan lebih dekat lagi.
Dan satu pesan dari gue:

"Berbuat baiklah lebih dahulu kepada dirimu sendiri, karena dengan itu hidup akan membuat dirimu jauh lebih baik."


NN


 









new information!!!!!

Assalamualaikum wr.wb

Hai! I'm come back!!!!

tumben kan gue nulis, ini because gara-gara sekarang gue jadi pengangguran. gue bingung juga mau ngapain. gue ganti nama blog, biar bisa move on dari yang dulu, hahaha #ngarang #abaikan
udah itu aja sih. sekian

*salam kantong merah*

KELAM BANGETTTTTTTTTTTTZZZZZZZZZZZZZZ

Assalamualaikum w.w

14 Mei 2013! Gue gangerti, gue ilfil, gue muak, gue enek, pokoknya gue marah banget. Tapi gue gatau gue marah ke siapa! mungkin gue bakal nulis membai buta di sini.

berawal dari hari setelahlibur nasional kemarin. gue lupa tepatnya tanggal berapa. hari itu gue main ke tempat X. malamnya gue banyak ngetwitt pedes. Y dan X tiba-tiba minta maaf gitu. paginya X diemin gue tanpa sebab. pas jam fisika gue dipanggil pak dudung ambil paket dari gramed. pas balik dari ruang TU. gue ketemu Y + Q berhubung mereka pengin liat bukunya, gue ajak mereka ke masjid sekalian solat duha.

nah disitu gue tanya Y kenapa dia sama X tiba-tiba sms minta maaf kayak gitu. ternyata kata Y, dia sama X kerasa gitu. Tapi sumpah demi apapun!!!! Gue gak maksud nyidir mereka! ITUPUN BUKAN BUAT MEREKA!!!!! tapi knp malah pada salah paham.
hari-hari berikutnya masih sama, X masih diemin gue! gue kira dia lagi ada masalah gitu.. ya gue ikut diem, gue takut kena semprot. karena gue udah tau dia orangnya kalo marah kayak apa. gue gak ngenjauh, gue cuma diem dalam arti biar dia fress dulu.

Minggunya X sms *********** gue gabales, gue gabales ada alasanya, bukan ALIBI kayak apa yang LO bilang di depan A,Y, Z dengan JUTEKNYA! gue masih punya perasaan men. gue udah jelasin kan? kenapa lo bilang gue alibi?
Kemarin lo sms gue dengan judesnya, gue bales woles, woles... tapi lo gak ngerti-ngerti. lo udah temenan berapa lama sama gue woy?? lo udah tau tentang gue, sikap yang paling gue gak suka, dan sadar gak sadar lo ngulangin kesalahan yg pernah lo buat!!!
Gue udah mintaa maaf, kemaren gue minta maaf beneran, dan lo cuma jawab "Y". padahal lo tau banget gue gak suka itu :((((
Tadi gue sengaja diem, diem bukan karena gue marah. diem karena gue TERLALU takut kena semprot. dan nihil. Gue senyumpun gak dibales. gue fun fun aja sih sebenernya lo mau marah atau gak.
Tapi diluar dugaan, lp keluar men.. lo keluar dari ***** padahal lo yang ngajak gue sama Y.
Tanpa ngomong apapun. gue baca semua tweet lo yang mayoritas but GUE! dan GUE tau bro. lo gak perlu ngetweet kayak gitu... itu bikin penyakit hati! apalagi Y, Y gak tau apa-apa.
Tapi whatever pilihan lo. Gue cuma bisa tengyu aja sama lo, bisa buat gue gak ngerasa sendiri di sekolah.

*aal izz well* *semua akan baik-baik aja*
Silencios :*

wassalamualaikum w.w